Tadi ada suatu kejadian yang membuat saya merasa dilemma…
Jadi gini ceritanya. Pulang dari kampus saya bermaksud untuk membeli tempat untuk preparatku. Lalu sampailah saya di toko yang menjual benda yang saya maksud tadi. Tiba-tiba saya dikagetkan oleh seorang bapak2, tdinya saya kira bapak tukang parker yang mau nyuruh saya pindahin motor. Ternyata dia itu tukang minta2. Saya lihat orangnya masih muda, bersih, dan sepertinya sehat walafiat dan masih bisa untuk mencari nafkah tidak dengan hanya menjadi seorang peminta2. Saya bingung saya mau kasih atau nggak. Akhirnya saya bertanya ke mbak2 tokonya dan dia bilang kalo dia itu hanya seorang pemalas yang kerjaannya meminta2.
Akhirnya saya membulatkan tekad untuk tidak memberinya uang. Tapi tiba2 saya teringat andeh (ibu) saya pernah bilang kata Rasul kalo ada orang minta2 itu kasih aja. Nah jadilah saya dilemma, mau memberi tapi tau dia hanyalah seorang pemalas atau tinggalin aja toh dia pemalas. Akhirnya saya memutuskan untuk meninggalkannya tanpa membeinya sepeserpun.
Bener gak ya saya??
hmm...datuk juga sering dilemma begitu...datuk paling tidak suka memberi yang ada kemungkinan pemberian datuk dipakai untuk beli rokok...dan datuk lebih suka memberi ke orang yang kelihatan membutuhkan tetapi tidak meminta-minta.
ReplyDeleteTetapi sebenarnya kalaupun Jijah memberi ke pengemis itu, selama niatnya ikhlas, apakah dia pemalas atau bukan, atau akan dipakai untuk apa uang itu, tidak akan mempengaruhi besar pahala yang Jijah terima...wallahualam bisshawab...
ooo...gitu ya tuk...
ReplyDeletemungkin lain kali kalo ada kejadian kayak gini lagi jijah bisa mengambil keputusan yang benar (pada saat itu)
iya jeh...
ReplyDeletekata mba liqoku asalkan iklaaas...
tapi kalo udah ada prasangka menurut rhm mending gag usah dikasih, daripada pahala kita ternodai sama prasangka..
iya toh???
hadistnya yang kata ibumu?? inget gak?
ReplyDeletegak inget cap..
ReplyDeletedah lama banget soalnya...